header-int

Laporan Kinerja Tahun Pertama Pengurus Yayasan Walisongo Pecangaan Periode 2021 - 2026

Senin, 15 Agu 2022, 08:44:16 WIB - 49 View
Share

Laporan Kinerja Tahun Pertama

Pengurus Yayasan Walisongo Pecangaan

Periode 2021 - 2026

 

 

 

 

 

 

Yayasan Walisongo Pecangaan kini sudah berusia 42 tahun. Dalam usia yang cukup matang tersebut Yayasan Walisongo telah mengalami pasang-surut dan dinamika dalam mengelola Sekolah, Madrasah, Pondok Pesantren beserta berbagai unit lain yang ada di dalamnya. Pada saat pengurus Periode 2021 - 2026 ditetapkan dan dilantik pada tanggal 14 Agustus 2021, Pengurus dihadapkan pada kenyataan bahwa di semua unit Pendidikan yang ada di lingkungan Yayasan Walisongo dalam lima tahun terakhir telah terjadi kecenderungan penurunan secara konsisten jumlah siswa dari tahun ke tahun.

Madrasah Diniyah Ulya sudah cukup lama tutup karena tidak ada siswanya. Belum terjadi sinkronisasi dan integrasi system pembelajaran antara unit Pendidikan formal (SMP, MTs, SMA, SMK dan MA) dengan Pondok Pesantren dan Madrasah Diniyah (Awaliyah, Wustho dan Ulya). Pada saat yang sama juga telah terjadi penurunan status Balai Pengobatan menjadi Usaha Kesehatan Sekolah, Lingkungan sekolah yang tidak terawat dengan baik, gersang dan pembangunan fisik yang berlangsung secara parsial dangan tanpa ada master plan yang jelas.

Semua kenyataan itu seolah telah membalik sejarah masa lalu Yayasan Walisongo beserta unit Pendidikan yang ada di dalamnya yang dulu dikenal sangat maju, muridnya pintar dan berkarakter, dan menjadi rujukan bagi pendirian dan pengembangan sekolah dan madrasah yang ada di sekitar Pecangaan dan Jepara pada umumnya. Bahkan beberapa sekolah dan madrasah di sekitar Yayasan Walisongo yang kini mengalami kemajuan pesat didirikan dan dikelola oleh para alumni dari unit Pendidikan yang ada di Yayasan Walisongo. Atas dasar Kenyataan tersebut maka Pengurus Periode ini bertekad dalam lima tahun periode kepengurusan untuk mengembalikan ‘kejayaan Yayasan Walisongo’.

Kini masa khidmat pengurus periode ini telah genap satu tahun. Dalam satu tahun masa kepengurusan ini beberapa langkah telah diambil oleh pengurus untuk meraih kembali kejayaan Walisongo dan sekaligus memulai mengurai dan mencari solusi atas masalah yang dihadapi oleh Yayasan Walisongo. Beberapa langkah tersebut meliputi :

  1. Integrasi system pengajaran. 
  2. Pengurus telah mengintegrasikan system pengajaran unit Pendi-dikan formal khususnya bagi siswa yang mengambil kelas Tahfidh, de-ngan pondok pesantren dan Madrasah Diniyah. Kebijakan ini membuat Pondok Pesantren lebih fokus mengelola tahfidh al-Qur’an, sedangkan pengajaran kitab kuning menjadi konsentrasi Madrasah Diniyah. Pro-gram ini akan membuat adanya ‘Triple Degree’ bagi alumni kelas Tah-fidh, yakni setelah lulus para alamni akan mendapatkan Ijazah Pendi-dikan Formal dari MTs, SMP, MA, SMA atau SMK, mendapatkan Ijazah Madrasah Diniyah serta mendapatkan Syahadah dan Sanat Tahfidh dari Pondok Pesantren.

Langkah ini menghasilkan out put berupa jumlah siswa Madrasah Diniyah khususnya Kelas Wustho melonjak tajam karena ada kewajiban bagi seluruh santri Pondok Pesantren Walisongo untuk ikut Kelas Madra-sah Diniyah. Kelas Ulya yang sudah cukup lama tutup, akhirnya dibuka kembali. Pada saat yang sama menyusul MTs yang sudah dua tahun membuka kelas tahfidh, akhirnya SMP juga membuka kelas tahfidh. Siswa MTs dan SMP yang mengambil kelas Tahfidh diwajibkan mondok di Pondok Pesantren Walisongo agar treatment terhdap hafalan al-Qur’an lebih terjamin dan terkontrol. Sedangkan Pondok Pesantren Walisongo didorong untuk menjadi centre of excellent yang akan menjadi pusat keunggulan bagi siswa potensial dan berbakat untuk menjadi siswa berprestasi.

Jumlah total siswa Madrasah Diniyah saat Kepengurusan periode ini ditetapkan sebanyak 172 siswa, saat ini meningkat menjadi 303 siswa, sehingga ada kenaikan sebesar 131 siswa atau 76%. Kelas Wustho (Kelas Bagi Santri Ponpes Walisongo) telah terjadi kenaikan sangat fantastis, dari 25 santri saat Pengurus dilantik, menjadi 103 santri atau naik sebanyak 78 siswa atau setara dengan kenaikan 312% pada saat ini.

 

  1. Pendirian SDUT.
  2. Sebagai tindak lanjut atas hasil Lokakarya tentang pengem-bangan Yayasan Walisongo pada tanggal 29 Desember 2021 dan berdasarkan riset yang dilakukan pengurus, maka pengu-rus mendirikan Sekolah Dasar Unggulan Terpadu (SDUT).

Dengan persiapan yang sangat singkat akhirnya pengurus periode ini berhasil mendirikan SDUT dengan jumlah siswa Kelas 1 angkatan pertama sebanyak 19 anak. Penilaian dari banyak pihak jumlah siswa SDUT sebanyak 19 anak adalah capaian luar biasa sebagai sebuah SD yang baru berdiri. Apalagi SD yang didirikan adalah SDUT dengan segmen pasar terbatas dan dengan biayanya cukup mahal. Kini saat tahun ajaran baru angkatan pertama baru saja kita mulai sudah ada beberapa calon wali murid yang inden untuk mendaftarkan putranya pada tahun ajaran mendatang. Semoga hal ini menjadi pertanda baik bagi masa depan SDUT.

 

  1. Upaya Peningkatan Jumlah Siswa dan Santri. 
  2. Terkait fenomena kecenderungan penurunan jumlah siswa di seluruh unit Pendidikan pada lima tahun terakhir coba diatasi oleh pengurus bersama-sama dengan para Kepala Sekolah dan Madrasah beserta segenap kom-ponen pendidik di unit Pendidikan di Yayasan Walisongo. Berbagai rapat koordinasi dan motivasi serta ikhtiar lahir dan batin dilaksa-nakan oleh pengurus dan pimpinan unit Pendidikan yang ada. Seiring dengan meningkatnya kepercayaan masyarakat pada Yayasan Walisongo maka secara komulatif telah terjadi penambahan jumlah siswa dan santri di unit Pendidikan secara signifikan pada tahun ajaran 2022/2023.

Out-put dari kegiatan ini adalah terjadinya penambahan cukup tajam  jumlah siswa/santri, dari total siswa/santri sebesar 1.543 saat awal penetapan kepengurusan menjadi 1.839 siswa/santri pada saat ini, alias naik sebesar 246 orang atau 16%. Adapun perubahan komposisi jumlah siswa/santri pada awal TP 2021/2022 dan awal TP 2022/2023 adalah sebagai berikut :

 

 

Penambahan jumlah siswa sebagaimana dalam tabel di atas berimplikasi pada adanya kebutuhan penambahan jumlah kelas di sebagian unit Pendidikan. Selain membuka kelas baru yakni SDUT dan Madin Ulya, pengurus juga membuka kelas Persiapan Wustho. Kelas persiapan Wustho ini untuk menampung santri Pondok Pesan-tren Walisongo yang sebagian besar mengambil kelas tahfidh di MTs dan SMP yang belum memiliki kapasitas yang cukup jika dimasukkan ke kelas Wustho. Kelas ini diharapkan bisa memberi percepatan kesiapan bagi siswa untuk masuk kelas Wustho.

Jika pada saat pengurus periode ini dilantik jumlah Rombel total sebanyak 53, maka pada satu tahun kepengurusan ini naik menjadi 64 Rombel, alias naik sebanyak 11 Rombel, setara dengan sekitar 20,75%. Adapun perbandingan komposisi jumlah Rombel pada awal TP 2021/2022 dan awal TP 2022/2023 adalah sebagai berikut :

 

 

  1. Pembentukan Organisasi Alumni (IKAWAS).
  2. Mengingat bahwa upaya percepatan pengembangan Yayasan Walisongo Pecangaan dan unit yang ada di dalamnya tidak bisa hanya menggantungkan pada kemampuan internal, maka Pengurus berusaha untuk melaku-kan kolaborasi dan sinergi dengan stakeholder eksternal. Salah satu stakeholder eksternal yang menjadi target pengurus adalah organisasi alumni Walisongo. Belajar dari pengalaman banyak lembaga Pendidikan, terjadinya kemajuan pesat adalah karena dukungan dan peran alumni. Atas dasar argumentasi tersebut maka pengurus menge-luarkan SK Kepengurusan Alumni (IKAWAS). Organisasi alumni yang terbentuk memiliki komitment untuk mendukung pengembangan Yayas-an Walisongo yang meliputi dukungan pengembangan sarpras dan peningkatan kualitas SDM.

Out put dari komitment organisasi alumni untuk mendukung pengembangan Sarpras Yayasan Walisongo adalah dengan keluar-nya bantuan Kemenag senilai Rp 300.000.000,- (Tigaratus Juta Rupiah), untuk pembangunan Gedung Sarana Olahraga dan Ruang Serbaguna. Bantuan tersebut atas prakarsa Ketua Alumni Walisongo, KH. Bukhori Yusuf, LC yang sekaligus merupakan Anggota DPR RI. Dana tersebut saat ini sudah ditransfer ke rekening Yayasan Walisongo dan pelaksanaan pembangunan gedung tersebut paling lambat di akhir tahun 2022 kerena merupakan dana APBN Perubahan.

 

  1. Mujahadah Bersama.
  2. Mengingat bahwa diperlukan adanya ikhtiar lahir dan batin dalam percepatan pengembangan Yayasan Waliso-ngo maka setiap awal bulan dilaksanakan Mujahadah Bersama. Kegiatan ini sekaligus sebagai media konsolidasi segenap Pimpinan, Gura dan Karyawan di lingkungan Yayasan Walisongo. Mujahadah tersebut diisi dengan pembacaan Rathibul Hadad serta penyampaian motivasi dan membangun visi bersama diantara Para Pimpinan, Guru dan Karyawan.

Out-put dari kegiatan ini adalah hadirnya sejumlah peserta yang secara rutin menghadiri mujahadah, yang berdampak pada terjalinnya silaturrahim antar Pimpinan, Guru dan Karyawan lintas Unit dengan para pengurus Yayasan serta terjadinya persamaan visi dan pemahaman bersama terhadap persoalan yang dihadapi oleh Yayasan Walisongo.

 

  1. Harlah Yayasan Walisongo. 
  2. Untuk mengenang sejarah pendirian Yayasan Walisongo dan mendoakan para masyayikh maka dilak-sanakan Harlah Yayasan Walisongo yang ke-42. Kegiatan ini dilak-sanakan pada tanggal 15 Februari 2022 dengan melibatkan seluruh Pengurus Yayasan, Pipim-pinan Unit, Guru, Tenaga Kependidikan, Ustadz/Ustadzah, Siswa dan Santri yang ada di seluru unit yang ada di Walisongo. Kegiatan ini sekaligus merupakan momentum bersama seluruh elemen yang ada di Walisongo untuk bersama-sama menge-nang sejarah pendirian Yayasan Walisongo.

Out-put dari kegiatan ini adalah adanya kebersamaan antara Pengurus dan Pimpinan Unit untuk bersama melaksanakan Harlah Yayasan Walisongo yang dihadiri oleh seluruh elemen yang ada di Yayasan Walisongo. Serta peserta harlah dapat memahami sejarah pendirian Yayasan Walisongo dan nilai-nilai perjuangan para pendiri yayasan.

 

  1. Rekrutmen Guru, Ustadz, Ustadzah dan Tenaga Kependidikan.
  2. Tingginya intensitas guru yang mengundurkan diri karena diterima program P3K, serta pengunduran diri karena alasan lain dan karena meninggal yang mengakibatkan terjadinya kekurangan guru dan tenaga kependidikan, serta bertambahnya jumlah siswa yang berim-plikasi pada adanya kebutuhan penambahan jumlah guru, maka Pengurus periode ini dalam satu tahun ini telah melakukan rekrutment Guru, Ustadz, Ustad-zah dan Tenaga Kependidikan dalam 5 (lima) gelombang rekrutment dengan menyesuaikan formasi yang dibutuhkan. Seleksi tersebut dilakukan secara terbuka, obyektif dan professional untuk menjamin keterpilihan Guru, Ustadz, Ustadzah dan Tenaga Kependidikan terbaik sesuai kebutuhan.

Output dari kegiatan ini adalah terisinya formasi Guru, Ustadz, Ustadzah dan Tenaga Kependidikan yang kosong sehingga dapat dihindari terjadinya kekosongan posisi Guru, Ustadz, Ustadzah dan Tenaga Kependidikan di seluruh Unit yang ada sehingga menggang-gu kelancaran proses belajar mengajar.

  1. Pengangkatan Satpam.
  2. Untuk meningkatkan kemanan dan ketertiban di lingkungan Yayasan Walisongo, termasuk dalam membantu penyeberangan siswa saat masuk dan keluar lingkungan Sekolah dan Madrasah pada jam masuk dan pulang sekolah, maka dirasa perlu untuk diangkat Satpam. Sesuai pemetaan kebutuhan jumlah Satpam yang diangkat sebanyak 3 (tiga) orang.

Ketiga Satpam yang diangkat tersebut melalui proses seleksi dari personal Banser Kecamatan Pecangaan. Pengangkatan Satpam dari personal Banser tersebut sekaligus untuk menjalin relasi yang baik antara Yayasan Walisongo dengan Jam’iyyah NU, khususnya Banser Pecangaan. Out-put dari kegitan ini adalah keberadaan Satpam yang mampu menjaga keamanan dan ketertiban di lingkungan Unit Pendidikan yang ada di Yayasan Walisongo Pecangaan. 

Kemajuan yang diraih oleh Yayasan Walisongo Pecangaan ini tentu berkat dukungan dan bimbingan Pembina serta arahan dan nasihat pengawas. Kerja keras dan dukungan para pimpinan unit dalam pelaksa-naan kegiatan adalah garda depan dalam mewujudkan keberhasilan program Yayasan. Sedangkan meningkatnya kepercayaan masyarakat pada Pengurus Yayasan Walisongo serta dukungan para alumni dan para tokoh masyarakat, khususnya para masyayikh adalah amunisi yang membuat semangat pengurus untuk berjuang tidak pernah padam. (MN)***